Techfin Insight – Pagi ini, usai menutup aplikasi Journal, saya membuka TikTok. Linimassa masih panas, penuh potongan demonstrasi, kabar tentang kerusuhan, penjarahan, sampai teriakan massa yang direkam tergesa dengan kamera goyah.
Di antara semua itu, algoritma tetap bekerja. Ia menyelipkan iklan celana linen, mungkin karena beberapa pekan lalu saya pernah hampir menekan tombol checkout di sebuah marketplace.
Rasanya absurd: di layar yang sama, ada teriakan dan asap, lalu beberapa detik kemudian, sepotong iklan tentang bahan yang ringan, adem, dan nyaman dipakai di musim panas.
Media sosial memang begitu. Ia tidak pernah benar-benar menyesuaikan dengan suasana hati manusia.
Ia hanya membaca riwayat klik, lalu menyodorkan sesuatu yang dianggap relevan.
Hidup kita pun, kalau dipikir-pikir, sudah lama seperti linimassa: penuh tabrakan, di mana tragedi, humor, iklan, dan komentar hadir bersamaan tanpa jeda.
Sebuah Story Singkat, Tapi Berat
Di antara arus yang tak berhenti itu, saya mendapati satu unggahan lain. Kali ini bukan dari akun berita, bukan juga dari brand pakaian, tapi dari seorang teman lama. Ia menulis di story Instagram:
“Saya polisi, kalau memang benci, silakan unfollow.”
Kalimatnya sederhana, tapi cukup membuat saja diam sejenak. Saya tahu dia baik, saya mengenalnya sebelum seragam itu menempel di tubuhnya.
Kami pernah duduk di warung kopi pinggir jalan, bercanda soal bola–meski saya tidak mengerti bola sama sekali–atau mengeluh tentang harga bensin.
Tapi kini, di linimassa, ia tampil bukan lagi sebagai dirinya yang saya kenal, melainkan sebagai representasi sebuah institusi. Dan dari situ, ia merasa perlu menegaskan: jika benci, unfollow saja.
Sekilas, jemari saya sempat gatal menulis balasan singkat—“Brimob kok galau?”—lengkap dengan sebuah emotikon bercanda.
Namun detik berikutnya saya urungkan. Ada sesuatu yang menahan: ingatan bahwa di balik seragam itu, ia tetap manusia biasa.
Saya jadi ingat Tony Stark, dengan seluruh armor yang membungkusnya, pernah rapuh di balik baja. Maka, mengapa seorang kawan yang hanya mengenakan seragam nyata tak boleh merasakan hal yang sama?
Identitas yang Menjadi Beban
Betapa berat rasanya punya identitas yang menempel begitu kuat, sampai orang lupa ada manusia di baliknya.
Di mata publik, ia bukan lagi “si A yang suka bercanda” atau “si A yang dulu main futsal bareng.” Ia sekarang hanyalah “polisi.” Selesai.
Dan di tengah marahnya publik, seragam itu bisa berubah jadi beban. Bukan sekadar pekerjaan, tapi cap yang melekat, yang membuat orang berhenti melihat manusianya.
Story singkat itu adalah tanda bahwa ia pun merasakan luka itu. Luka karena dicampuradukkan dengan stigma, luka karena merasa dibenci hanya karena profesi.
Algoritma, Polarisasi, dan Jeritan Sunyi
Linimassa kita makin keras. Algoritma membuat konten marah lebih cepat viral daripada klarifikasi.
Ungkapan ketidakpuasan lebih ramai ketimbang cerita tentang kerja sunyi. Dalam pusaran seperti itu, mudah sekali satu kelompok jadi target kebencian massal.
Story teman saya itu, mungkin, adalah cara paling sederhana untuk ia mencoba bertahan. Alih-alih membalas panjang atau berdebat, ia hanya menulis: kalau memang benci, silakan unfollow.
Bukan karena menantang, tapi karena ingin tahu siapa yang tetap mau melihatnya sebagai manusia.
Manusia di Balik Seragam
Tidak semua orang bisa memilih. Polisi yang bertugas di lapangan hari ini barangkali hanya menjalankan jadwal, sebagaimana kita yang esok harus tetap masuk kerja meski sedang tidak ingin.
Tugas itu, suka atau tidak, harus diselesaikan.
Saya tidak sedang menulis untuk membela. Saya juga tidak menolak kritik publik yang punya alasan kuat untuk marah.
Saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri bahwa polisi pun manusia. Mereka punya keluarga yang membaca komentar pedas.
Mereka punya anak yang suatu hari akan bertanya, “Ayah, kenapa orang-orang marah pada polisi?”
Mereka juga punya lingkaran pertemanan yang mungkin perlahan menjauh. Mereka menjalankan tugas, sering tanpa pilihan, dan di tengah semua itu, mereka tetap harus berdiri di garis depan.
Apakah semua benar? Tentu tidak. Apakah semua salah? Juga tidak sesederhana itu.
Kalau Kita Terus Reaktif…
Kita terbiasa menatap pakaian, lalu melupakan wajah di baliknya. Sama seperti kita menatap linimassa, lalu lupa bahwa di balik akun ada manusia yang sedang lelah.
Story teman saya, bagi saya, bukan soal benar atau salah. Itu hanyalah jeritan sunyi seorang manusia yang kebetulan memakai seragam, tapi tetap ingin diakui keberadaannya.
Dan mungkin, di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Kalau kita terus melatih diri untuk reaktif—membenci cepat, menghakimi instan—maka hari ini targetnya polisi, besok siapa lagi?
Bisa dokter, jurnalis, tetangga, atau bahkan orang yang kita sayangi. Dunia digital dengan algoritmanya bisa dengan mudah membuat siapa pun jadi musuh bersama.
Kita terbiasa menatap pakaian, lalu melupakan wajah di baliknya. Sama seperti kita menatap linimassa, lalu lupa bahwa di balik akun ada manusia yang sedang lelah.
Setiawan Chogah
Pelajaran pentingnya mungkin bukan hanya soal polisi atau demonstrasi, tapi tentang kita sendiri: bagaimana kita memilih untuk bereaksi.
Apakah kita ingin jadi bagian dari kebisingan, atau justru menjadi jeda yang menghadirkan ketenangan?
Saya menutup layar ponsel. Di luar jendela, matahari masih naik perlahan, menyingkap bayangan pohon yang jatuh ke jalan. Saya teringat wajah teman saya, dulu tanpa seragam, hanya seorang anak muda dengan tawa lebar.
Kini, ia berdiri di dunia yang keras, membawa seragam, membawa stigma. Tapi di balik itu semua, ia tetap manusia.
Dan barangkali, di balik segala bising linimassa, itulah yang perlu kita ingat: bahwa sebelum ada institusi, ada individu; sebelum ada seragam, ada hati.
Hati yang lebih dulu berdenyut sebelum tubuh dibentuk, hati yang mengenal takut dan rindu, hati yang menyimpan keinginan sederhana untuk pulang dengan selamat.
Dan sebelum semua itu, ada kita. Kita yang pernah sama-sama berlari di lapangan sore, mengejar bola plastik yang mudah pecah, tertawa tanpa beban.
Kita yang duduk bersila di musala kecil, mengaji sambil sesekali salah membaca tapi tetap saling menyemangati.
Kita yang dulu hanya anak-anak dengan mimpi sederhana—tentang es lilin, layang-layang, dan hari esok yang terasa jauh sekali. Lantas, mengapa sekarang harus membenci?



