Techfin Insight – Investasi tidak lagi hanya milik segelintir orang kaya. Dengan aplikasi keuangan digital, siapa pun kini bisa mulai berinvestasi.
Produk seperti deposito, obligasi, reksadana, dan saham disebut sebagai instrumen investasi. Sebagian ada di lingkup perbankan, sebagian lain masuk ranah pasar modal.
Agar lebih mudah dipahami, mari gunakan sebuah ilustrasi sederhana: seekor ayam.
Setiap instrumen investasi bisa diibaratkan sebagai cara berbeda memperlakukan ayam yang kamu miliki.
1. Deposito: Ayam dalam Kandang
Deposito adalah simpanan berjangka di bank. Kamu menaruh uang, lalu baru bisa mencairkannya saat jatuh tempo (misalnya 1, 3, atau 12 bulan).
- Keuntungan: aman, bunga tetap, dijamin LPS hingga Rp2 miliar.
- Risiko: hampir tidak ada, kecuali kalau nominalmu di atas batas jaminan.
- Kelemahan: tidak fleksibel; pencairan sebelum jatuh tempo kena penalti.
- Cara membeli: lewat bank (cabang atau mobile banking).
Analogi: seperti ayam yang dikandangkan. Ayammu aman dan pasti bertelur sesuai jadwal, tapi kamu tidak bebas mengambilnya kapan saja.
2. Obligasi: Ayam Dipinjamkan
Obligasi adalah surat utang dari pemerintah atau perusahaan. Kamu meminjamkan uang, lalu menerima kupon (bunga) secara rutin.
- Keuntungan: imbal hasil lebih tinggi daripada deposito, ada pendapatan berkala.
- Risiko: penerbit bisa gagal bayar (default). Harga obligasi juga bisa naik turun di pasar sekunder.
- Kelemahan: harus paham jangka waktu dan risiko kredit.
- Cara membeli:
- Obligasi pemerintah (ORI, SBR, Sukuk Ritel) bisa dibeli lewat bank atau aplikasi investasi resmi saat masa penawaran (pasar primer).
- Setelah itu, bisa diperdagangkan kembali di pasar sekunder melalui sekuritas.
Analogi: seperti ayam yang kamu pinjamkan ke tetangga. Kamu dapat telur rutin, lalu ayam dikembalikan setelah waktunya selesai. Namun, tetap ada risiko kalau tetanggamu tidak menepati janji.
3. Reksadana: Ayam Masuk Koperasi
Reksadana mengumpulkan uang dari banyak investor, dikelola manajer investasi ke saham, obligasi, atau pasar uang.
- Keuntungan: praktis, modal kecil (mulai Rp10 ribu), dikelola profesional.
- Risiko: naik turunnya kinerja pasar bisa memengaruhi nilai unit. Tidak ada jaminan modal kembali.
- Kelemahan: bergantung pada kinerja manajer investasi.
- Cara membeli: lewat aplikasi reksadana (Bibit, Bareksa, Tanamduit), marketplace, bank, atau langsung ke manajer investasi.
Analogi: seperti ayam yang kamu titipkan ke koperasi. Pengurusnya yang memberi pakan dan menjual telur, lalu hasilnya dibagi rata.
4. Saham: Ayam Dipelihara Sendiri
Saham adalah bukti kepemilikan perusahaan. Kamu bisa untung dari dividen (bagian laba perusahaan) atau dari kenaikan harga saham di bursa (capital gain).
- Keuntungan: potensi untung paling besar.
- Risiko: fluktuasi tinggi, bisa rugi besar jika tidak hati-hati.
- Kelemahan: butuh riset dan mental tahan banting.
- Cara membeli: lewat aplikasi sekuritas resmi yang terdaftar di OJK dan Bursa Efek Indonesia. Kamu akan punya akun yang dikelola oleh broker atau perusahaan sekuritas.
Analogi: seperti ayam yang kamu pelihara sendiri. Jika dirawat baik, ayam bisa berkembang biak dan bernilai tinggi. Tetapi kalau salah urus, ayam bisa sakit bahkan mati.
Kenapa Kamu Perlu Mulai Berinvestasi?
Kalau kamu sudah sampai membaca sejauh ini, artinya kamu selangkah lebih maju dalam memahami cara kerja uang.
Menabung di bank atau di celengan memang aman, tetapi ada risiko nilai uangmu tergerus inflasi. Misalnya, uang Rp1 juta hari ini bisa membeli sekian banyak kebutuhan, tapi 5 tahun lagi nilainya bisa berkurang.
Dengan berinvestasi:
- Deposito menjaga nilai dengan aman.
- Obligasi memberi tambahan kupon.
- Reksadana membuat uangmu ikut tumbuh tanpa repot.
- Saham memberi peluang kekayaanmu melonjak jika perusahaanmu berkembang.
Investasi bukan soal cepat kaya, melainkan soal menyiapkan masa depan finansialmu dengan lebih bijak.
Simulasi Sederhana: Rp1 Juta dalam 5 Tahun
Bayangkan kamu menyimpan Rp1.000.000 sejak 2020 hingga 2025 dengan cara berbeda:
- Tabungan Biasa (0,5%/tahun)
- Hasil akhir: ±Rp1.025.000
- Dikurangi inflasi, daya beli justru turun.
- Deposito (4%/tahun)
- Hasil akhir: ±Rp1.220.000
- Obligasi Pemerintah (6%/tahun)
- Hasil akhir: ±Rp1.340.000
- Reksadana Campuran (7%/tahun)
- Hasil akhir: ±Rp1.420.000
- Saham (10%/tahun)
- Hasil akhir: ±Rp1.610.000
Pelajaran penting: menabung saja tidak cukup untuk melawan inflasi. Instrumen investasi membantu uangmu tumbuh lebih sehat sesuai profil risiko yang kamu pilih.
Glosarium Istilah Penting
- Return: hasil atau keuntungan dari investasi. Bisa berupa bunga, kupon, dividen, atau capital gain.
- Kupon: bunga rutin dari obligasi.
- Dividen: bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham.
- Capital gain: keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual saham/obligasi.
- Broker: perusahaan sekuritas yang menjadi perantara jual beli saham/obligasi.
- Manajer Investasi (MI): pihak profesional yang mengelola dana di reksadana.
- OJK: Otoritas Jasa Keuangan, lembaga resmi yang mengawasi pasar keuangan dan melindungi investor.
- Pasar primer: tahap awal penjualan instrumen (obligasi/saham baru) langsung dari penerbit.
- Pasar sekunder: tempat perdagangan instrumen setelah diterbitkan, misalnya di bursa.
- Likuiditas: kemudahan menjual instrumen menjadi uang tunai. Deposito likuiditasnya rendah, saham lebih likuid.
Mengelola investasi seperti merawat ayam. Kamu bisa memilih kandang yang aman, meminjamkan untuk hasil rutin, menitipkan ke koperasi, atau merawat sendiri dengan segala risiko dan potensi.
Yang paling penting, jangan hanya ikut-ikutan. Pilih instrumen yang kamu pahami, sesuaikan dengan tujuan keuanganmu, dan jangan lupa terus belajar.
Karena di balik setiap istilah rumit, ada tujuan sederhana: membuat uangmu bekerja lebih cerdas untuk masa depan.



