Techfin Insight – Di linimassa beberapa hari terakhir, satu hal paling mencolok bukan lagi hanya video bentrokan atau cerita duka, melainkan warna. Brave Pink dan Hero Green.
Dua warna sederhana—merah muda dan hijau neon—tiba-tiba menjelma menjadi bahasa baru yang digunakan ribuan orang di media sosial.
Awalnya, keduanya lahir dari momen tragis. Seorang perempuan dengan hijab pink yang berdiri berani menolak kekerasan; seorang pengemudi ojek online berjaket hijau yang menjadi korban di tengah demonstrasi.
Potongan kisah itu merekam sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar peristiwa: simbol keberanian dan solidaritas.
Warna sebagai Bahasa
Dalam sejarah, warna selalu lebih dari sekadar estetika. Ungu pernah dipakai gerakan feminis, kuning menjadi tanda protes politik di Asia Tenggara, dan hitam putih sering diasosiasikan dengan perlawanan sipil.
Kini, di era digital, pink dan hijau mendadak naik ke panggung: bukan karena selebritas, bukan karena mode, melainkan karena manusia biasa yang hadir di tengah kerusuhan.
Di TikTok dan Instagram, generator foto profil Brave Pink dan Hero Green bermunculan. Orang-orang mengganti avatar mereka, bukan karena ikut-ikutan semata, melainkan untuk mengatakan: “Aku di sini, aku melihat, aku peduli.”

Dari Viral ke Ritual
Apa yang membuat tren ini berbeda? Ia bukan sekadar viral, tetapi perlahan menjadi ritual digital. Sama seperti pita hitam di masa lalu untuk berduka, kini warna digital dipakai sebagai spanduk di linimassa.
Tidak ada suara teriak, tidak ada poster fisik, hanya gradasi warna di layar. Namun, justru dalam kesunyian itu, pesan terasa lebih nyaring.
Sosiolog digital menyebut ini sebagai bentuk performative solidarity—aksi sederhana yang menunjukkan posisi. Kritik bisa saja muncul: apakah benar mengganti foto profil bisa membawa perubahan nyata?
Tapi barangkali, solidaritas selalu berawal dari hal kecil: memilih untuk tidak diam.
Budaya Digital Indonesia: Kompak dalam Warna
Indonesia punya tradisi gotong royong, dan ternyata nilai itu ikut terbawa ke dunia digital. Bedanya, kalau dulu warga turun tangan mengecat pos ronda, kini mereka “mengecat” profil media sosialnya dengan warna pink dan hijau.
Fenomena ini juga menunjukkan kuatnya budaya visual di masyarakat kita. Narasi teks bisa diperdebatkan, tapi warna langsung bicara ke emosi. Warna lebih cepat dipahami, lebih sulit dibantah.
Antara Simbol dan Realitas
Namun ada dilema: apakah warna cukup? Brave Pink dan Hero Green memang indah sebagai simbol, tapi realitas di jalan tetap pahit.
Masih ada korban, masih ada luka, masih ada aparat yang bekerja dalam tekanan.
Justru di sinilah refleksi penting: simbol tidak dimaksudkan untuk menggantikan aksi nyata, melainkan mengingatkan bahwa ada kemanusiaan yang harus dijaga.
Digital Activism: Pisau Bermata Dua
Di era algoritma, informasi provokatif lebih cepat viral daripada klarifikasi. Maka, tren seperti Brave Pink dan Hero Green bisa jadi oase.
Ia membawa narasi damai yang menyaingi potongan video kekerasan.
Namun, sekaligus, tren ini rawan dimanipulasi. Ada risiko simbol dipakai tanpa pemahaman, hanya sekadar tren estetika.
Jika itu terjadi, pesan moral bisa terkikis. Tantangan kita adalah menjaga makna, bukan sekadar menyebarkan warna.
Menyulam Harapan dari Warna
Brave Pink dan Hero Green pada akhirnya bukan milik individu yang pertama kali memakainya. Ia telah menjadi warisan kolektif linimassa.
Dari profil IG hingga spanduk digital, dari meme hingga komentar, warna ini menyulam harapan: bahwa bahkan di tengah tragedi, manusia tetap bisa memilih solidaritas.
Mungkin benar, warna tidak bisa menghentikan gas air mata. Tidak bisa memulihkan nyawa yang hilang. Tapi warna bisa menjadi tanda: bahwa kita masih peduli, masih berani, masih bersama.
Dan bukankah itu inti dari perlawanan damai? Bahwa di dunia yang gaduh oleh kebencian, kita tetap memilih untuk berdiri di sisi yang menyalakan cahaya.



