Techfin Insight – Seperti malam-malam biasa, tidak ada yang spektakuler di kediaman saya. Usai Magrib, saya duduk di beranda, sekadar bengong menatap langit. Saya menyukai langit malam yang bersih, dari halaman teras ini—yang berkali-kali saya tolak tawaran pemasangan kanopi dari tetangga tukang las—saya biasa menghabiskan waktu.
Malam ini tidak ada teman yang datang untuk menyesap kopi Kapal Api dan obrolan panjang yang sering berputar-putar di seputar kondisi bangsa, obrolan yang kadang lebih banyak keluhan daripada solusi. Hanya sunyi yang menemani, ditingkahi suara serangga yang bersahut-sahutan di rumpun bambu samping rumah.
Ponsel saya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp dari seorang klien di Hong Kong. Permintaannya sederhana: desain ucapan Maulid Nabi. Saya menatap layar sejenak, lalu bangkit menuju ruang kerja.
Saya menyalakan laptop, lalu membuka jendela. Udara malam masuk perlahan, membawa aroma bambu yang basah usai disiram hujan sore. Cahaya bulan menembus kisi-kisi daun, melukis garis samar di dinding. Seekor capung nyasar berputar-putar di sekitar lampu pijar, sayapnya berkilau rapuh. Dua ekor ikan di kolam sisi jendela berenang pelan, meninggalkan riak kecil yang hampir tak terdengar.
Dari masjid di ujung gang, salawat Nabi mengalun lirih. Nada itu datang pelan, menyeberangi jalan sepi, menyusup lewat dedaunan, lalu hinggap di ruang kerja saya. Saya terdiam, membiarkan suara itu mengisi ruang, membiarkan ia jadi jeda yang menunda ketukan jari di papan ketik.
Dan entah kenapa, di detik itu, ingatan saya berbelok jauh: kepada Muhammad. Kepada nama yang pernah saya baca dengan penuh rasa ingin tahu, saya dengar dalam percakapan, saya cari dalam buku-buku sejarah, hingga akhirnya saya terima dengan utuh bahwa dialah risalah terakhir.
Yatim Sebelum Lahir, Piatu Saat Kanak-kanak
Ingatan saya melayang jauh, menembus waktu, menuju sebuah rumah sederhana di Makkah—di sanalah seorang bayi lahir dengan tangis memecah sunyi padang pasir, tanpa ayah yang menyambut, karena Abdullah telah tiada sebelum sempat menimang; dan sejak saat itu, kehilangan menjadi teman pertama yang dikenalnya, bahkan sebelum ia belajar mengeja dunia.
Beberapa tahun kemudian, kehilangan itu berulang, seperti gelombang yang tidak pernah lelah menghantam; Aminah, ibunya, wafat dalam perjalanan pulang dari kampung ayah, meninggalkan Muhammad kecil yang baru enam tahun untuk berdiri sendirian di tengah jalan hidup, tubuhnya mungil, matanya bening, namun hatinya telah penuh dengan rasa sepi yang dalam.
Karen Armstrong menulis lirih, “Due to the devastating psychological blows during his childhood, Muhammad feared abandonment.” Luka yang bagi kebanyakan anak bisa menghancurkan, justru pada dirinya menjelma akar empati—dari rasa takut ditinggalkan, lahir tekad untuk tidak meninggalkan siapa pun, dari pengalaman ditarik berulang kali dari pangkuan, tumbuh kesadaran bahwa kasih sayang bisa hadir di mana saja, tidak hanya dari darah, tetapi juga dari hati yang rela memberi.
Sebelum itu, ia sempat diasuh oleh ibu yang lain, Halimah Sa’diyah di padang pasir Badui: malam yang menggigit dingin, siang yang membakar kulit, debu yang menempel di telapak kaki, kambing-kambing yang merumput di bawah terik; udara keras itu menjadi guru pertama bagi tubuh kecilnya, mengajarinya tentang kesederhanaan, tentang jarak dari ibunya, dan tentang kasih yang hadir dari seorang perempuan asing yang justru menimang dengan sepenuh hati.
Dari satu pengasuhan ke pengasuhan lain—dari ibu ke Halimah, kembali ke ibu, lalu ke kakek, dan akhirnya ke paman—hidupnya adalah serpihan yang terpecah, namun justru dari serpihan itu ia belajar bahwa cinta tidak selalu lahir dari keutuhan, bahwa kehilangan bisa menjadi lahan tempat kasih sayang ditanam dan tumbuh lebih luas.
Di bawah langit Makkah yang jarang berawan, seorang anak kecil lebih dulu mengenal sepi ketimbang cinta, tetapi mungkin justru karena itu, ketika kelak ia memberi cinta, cintanya meluas tanpa batas, meliputi mereka yang tak pernah sekalipun menimangnya di masa kecil.



