Uzlah di Gua Hira
Dari rumah yang tenang bersama Khadijah, Muhammad kian sering membawa dirinya menjauh dari hiruk Makkah. Malam-malam di pasar penuh dengan arak, teriakan pedagang, dan riuh suku yang tak henti membanggakan nama leluhur; semua itu kian terasa kosong bagi dirinya. Ada keresahan yang mengendap pelan, seperti bara yang tertutup abu—tidak padam, tapi juga belum menyala terang.
Maka kakinya menapaki jalan berbatu menuju sebuah gua di bukit, Gua Hira. Letaknya tidak jauh dari Makkah, tapi cukup tinggi untuk membuat keramaian kota tinggal sebagai gema samar. Siang membakar kulit, malam menggigit dingin, namun di dalam gua itu ia menemukan sesuatu yang lebih langka daripada harta: kesenyapan.

Di sanalah ia duduk, tubuhnya bersandar pada batu, matanya menatap langit yang penuh bintang. Angin menerobos celah gua, membawa aroma kering dari padang pasir. Cahaya bulan menyelinap pelan, melukis garis tipis di dinding. Di hening itu, ia memelihara diam, membiarkan pikirannya meniti pertanyaan yang tak pernah terjawab di pasar: mengapa manusia lebih suka menindas daripada merangkul, mengapa bayi perempuan harus dikubur, mengapa harta dan darah suku lebih dihormati daripada kasih dan keadilan?
Khadijah tidak pernah menahan suaminya dari pencarian itu. Ia membiarkan Muhammad berlama-lama di gua, bahkan menyiapkan bekal untuk hari-hari yang ia habiskan sendirian. Dukungan itu kelak menjadi penopang ketika sejarah berguncang.
Lalu pada sebuah malam, ketika usia telah genap empat puluh, ketika malam di gua begitu hening hingga detak jantung terdengar jelas, datanglah hentakan itu. Sebuah suara menembus kesunyian, memeluk sekaligus mengguncang: Iqra’. Bacalah.
Menurut catatan tradisi Islam, wahyu pertama itu turun sekitar tahun 610 M—usia di mana seorang nabi dianggap matang dalam sejarah umat. Sahih al-Bukhari meriwayatkan bagaimana malaikat Jibril mendekapnya hingga dada terasa sesak, tiga kali, lalu perintah itu disampaikan gamblang. Muhammad menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Tapi desakan itu bukan untuk membebani, melainkan untuk melahirkan cahaya.
Karen Armstrong menyebut peristiwa itu sebagai pengalaman yang mengguncang: “A revelation that shattered him, leaving him trembling, unsure, yet transformed.” Malam itu Muhammad turun dari gua dengan tubuh yang masih gemetar, namun di dadanya sudah terpatri sesuatu yang tak lagi bisa dipadamkan.
Dan ketika ia sampai di rumah, Khadijah menyambut dengan pelukan. Di pundak perempuan itu, seorang nabi yang gemetar menemukan keteduhan, dan sejarah pun menemukan titik awalnya.
Al-Qur’an: Mustahil dari Manusia Biasa
Makkah terkejut. Seorang pemuda yang sejak kecil dikenal jujur kini berkata bahwa dirinya menerima wahyu. Bagi sebagian orang, itu terdengar seperti kebohongan. Mereka mencibir, menganggapnya membual, menuduhnya penyair yang sedang mencari perhatian. Padahal Muhammad tak pernah dikenal sebagai penyair, tak pernah menulis bait, tak pernah belajar rima seperti mereka yang biasa bersaing di pasar Ukaz.
Namun kata-kata yang ia sampaikan bukan sekadar syair. Ia membawa sesuatu yang jauh lebih teratur, lebih indah, dan lebih dalam. Ayat-ayat yang ia ulang dengan suara bergetar memiliki irama yang menundukkan kepala, sekaligus kekuatan yang menantang hati paling keras.
Masyarakat Makkah kala itu nyaris buta aksara. Tidak ada tradisi literasi yang mengikat mereka dengan kisah-kisah dunia. Mereka tidak mengenal Musa, tidak mengenal Isa, tidak tahu kisah Nuh atau Ibrahim. Namun dalam ayat-ayat yang Muhammad bacakan, nama-nama itu hadir dengan runut, detail, dan makna yang melintasi batas zaman. Dari mana seorang yatim piatu, yang tidak pernah belajar kitab sebelumnya, bisa mengisahkan sejarah para nabi terdahulu, kalau bukan karena wahyu?
Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga menyingkap kondisi masyarakat saat itu: kritik terhadap riba, larangan mengubur bayi perempuan, perintah menolong yatim dan miskin. Semua itu adalah jawaban bagi Makkah yang sedang retak oleh keserakahan. Dan lebih dari itu, Al-Qur’an bahkan memberi isyarat-isyarat tentang masa depan—tentang perjalanan manusia ke langit, tentang kekuatan besar yang mengatur bumi dan langit, tentang batas yang tak bisa ditembus kecuali dengan daya dan otoritas.
Ayat itu berbunyi: “Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah; kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan (sulṭān).” (QS. Ar-Rahman: 33). Berabad-abad setelahnya, ketika manusia mulai membangun roket dan menembus orbit, ayat itu dibaca ulang dengan ketercengangan baru. Seolah kata-kata yang lahir di tengah masyarakat buta huruf itu sudah lebih dulu menyingkap batas langit yang hanya bisa dilewati dengan kekuatan.
W. Montgomery Watt menulis, “The Qur’an was not only a religious text, but also the charter of a new society.” Ia melihat bahwa dari mulut seorang buta huruf lahir sistem moral dan sosial yang melampaui zamannya. Kata-kata itu bukan hanya penghibur spiritual, melainkan peta jalan bagi sebuah peradaban.
Bagi mereka yang menuduh Muhammad membual, setiap ayat justru menjadi kebalikan dari tuduhan itu: terlalu indah untuk dibuat oleh penyair, terlalu runut untuk disusun oleh orang buta huruf, terlalu luas untuk lahir dari masyarakat kecil yang tidak mengenal literasi. Kata-kata itu bukan cermin dirinya, tapi cermin cahaya yang melintas melalui dirinya.
Dan sejak itu, Al-Qur’an tidak lagi sekadar didengar, tapi mulai dihafal, ditulis, dibawa dari satu hati ke hati lain, dari satu rumah ke rumah lain. Di tengah Makkah yang masih menuduhnya pendusta, lahirlah sebuah kitab yang kelak akan dibaca berulang-ulang di seluruh dunia, setiap hari, tanpa pernah kehilangan nadanya.



