Horizons MediaHorizons Media
Font ResizerAa
  • Culture
  • Life
  • Space
  • News
  • Civic
  • Move
  • Tech
  • DPRD Banten
Horizons MediaHorizons Media
Font ResizerAa
  • Culture
  • Life
  • Space
  • News
  • Civic
  • Move
  • Tech
  • DPRD Banten
Search
  • Rubrik
    • Culture
    • Life
    • Space
    • News
  • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Disclaimer
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Iklan & Partnership
    • Syarat dan Ketentuan
Punya akun? Sign In
Follow US
© 2026 Horizons Media | Designed with ❤️ by Setiawan Chogah
Life

Renungan Maulid Nabi Muhammad: Dari Sunyi Makkah ke Cahaya Abadi

Renungan Maulid Nabi Muhammad: dari sunyi Makkah, seorang yatim tumbuh dalam luka, hingga cahaya abadi yang mengalahkan dendam. Dari gua yang sepi hingga Fathul Makkah, kasih selalu lebih kuat daripada pedang.

Setiawan Chogah
Oleh
Setiawan Chogah
Jumat, 5 September 2025
4 Views
Share
durasi baca: 39 menit
Maulid Nabi Muhammad
Ilustrasi.

Uzlah di Gua Hira

Dari rumah yang tenang bersama Khadijah, Muhammad kian sering membawa dirinya menjauh dari hiruk Makkah. Malam-malam di pasar penuh dengan arak, teriakan pedagang, dan riuh suku yang tak henti membanggakan nama leluhur; semua itu kian terasa kosong bagi dirinya. Ada keresahan yang mengendap pelan, seperti bara yang tertutup abu—tidak padam, tapi juga belum menyala terang.

Maka kakinya menapaki jalan berbatu menuju sebuah gua di bukit, Gua Hira. Letaknya tidak jauh dari Makkah, tapi cukup tinggi untuk membuat keramaian kota tinggal sebagai gema samar. Siang membakar kulit, malam menggigit dingin, namun di dalam gua itu ia menemukan sesuatu yang lebih langka daripada harta: kesenyapan.

Maulid Nabi Muhammad
Ilustrasi Gua Hira pada malam purnama—simbol perjalanan sunyi Nabi Muhammad sebelum risalah diturunkan.

Di sanalah ia duduk, tubuhnya bersandar pada batu, matanya menatap langit yang penuh bintang. Angin menerobos celah gua, membawa aroma kering dari padang pasir. Cahaya bulan menyelinap pelan, melukis garis tipis di dinding. Di hening itu, ia memelihara diam, membiarkan pikirannya meniti pertanyaan yang tak pernah terjawab di pasar: mengapa manusia lebih suka menindas daripada merangkul, mengapa bayi perempuan harus dikubur, mengapa harta dan darah suku lebih dihormati daripada kasih dan keadilan?

Khadijah tidak pernah menahan suaminya dari pencarian itu. Ia membiarkan Muhammad berlama-lama di gua, bahkan menyiapkan bekal untuk hari-hari yang ia habiskan sendirian. Dukungan itu kelak menjadi penopang ketika sejarah berguncang.

Lalu pada sebuah malam, ketika usia telah genap empat puluh, ketika malam di gua begitu hening hingga detak jantung terdengar jelas, datanglah hentakan itu. Sebuah suara menembus kesunyian, memeluk sekaligus mengguncang: Iqra’. Bacalah.

Baca Juga

Laporan Gangguan Listrik PLN Mobile
PLN Mobile Bikin Hidup Lebih Mudah: Dari Bayar Tagihan Sampai Foto Meter Sendiri
Tambah Daya Listrik Kini Lebih Ringan: Warga Banten Rasakan Manfaat KALCER PLN
Dari Lapas Nusakambangan, Limbah FABA Jadi Sumber Harapan Baru
Festival Musik & 5G Indosat IM3: Saat Hiburan Bertemu Proteksi Digital

Menurut catatan tradisi Islam, wahyu pertama itu turun sekitar tahun 610 M—usia di mana seorang nabi dianggap matang dalam sejarah umat. Sahih al-Bukhari meriwayatkan bagaimana malaikat Jibril mendekapnya hingga dada terasa sesak, tiga kali, lalu perintah itu disampaikan gamblang. Muhammad menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Tapi desakan itu bukan untuk membebani, melainkan untuk melahirkan cahaya.

Karen Armstrong menyebut peristiwa itu sebagai pengalaman yang mengguncang: “A revelation that shattered him, leaving him trembling, unsure, yet transformed.” Malam itu Muhammad turun dari gua dengan tubuh yang masih gemetar, namun di dadanya sudah terpatri sesuatu yang tak lagi bisa dipadamkan.

Dan ketika ia sampai di rumah, Khadijah menyambut dengan pelukan. Di pundak perempuan itu, seorang nabi yang gemetar menemukan keteduhan, dan sejarah pun menemukan titik awalnya.

Baca Juga

Rinara Batik Cilegon: Saat PLN Menyalakan Energi Inklusif dan Harapan
Cara Ikut Tren Brave Pink & Hero Green Tanpa Kehilangan Makna
Brave Pink, Hero Green: Ketika Warna Jadi Bahasa Perlawanan Digital
Diskon Listrik PLN 50% Lewat KALCER: Begini Cara Nikmatinya

Al-Qur’an: Mustahil dari Manusia Biasa

Makkah terkejut. Seorang pemuda yang sejak kecil dikenal jujur kini berkata bahwa dirinya menerima wahyu. Bagi sebagian orang, itu terdengar seperti kebohongan. Mereka mencibir, menganggapnya membual, menuduhnya penyair yang sedang mencari perhatian. Padahal Muhammad tak pernah dikenal sebagai penyair, tak pernah menulis bait, tak pernah belajar rima seperti mereka yang biasa bersaing di pasar Ukaz.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Namun kata-kata yang ia sampaikan bukan sekadar syair. Ia membawa sesuatu yang jauh lebih teratur, lebih indah, dan lebih dalam. Ayat-ayat yang ia ulang dengan suara bergetar memiliki irama yang menundukkan kepala, sekaligus kekuatan yang menantang hati paling keras.

Masyarakat Makkah kala itu nyaris buta aksara. Tidak ada tradisi literasi yang mengikat mereka dengan kisah-kisah dunia. Mereka tidak mengenal Musa, tidak mengenal Isa, tidak tahu kisah Nuh atau Ibrahim. Namun dalam ayat-ayat yang Muhammad bacakan, nama-nama itu hadir dengan runut, detail, dan makna yang melintasi batas zaman. Dari mana seorang yatim piatu, yang tidak pernah belajar kitab sebelumnya, bisa mengisahkan sejarah para nabi terdahulu, kalau bukan karena wahyu?

Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga menyingkap kondisi masyarakat saat itu: kritik terhadap riba, larangan mengubur bayi perempuan, perintah menolong yatim dan miskin. Semua itu adalah jawaban bagi Makkah yang sedang retak oleh keserakahan. Dan lebih dari itu, Al-Qur’an bahkan memberi isyarat-isyarat tentang masa depan—tentang perjalanan manusia ke langit, tentang kekuatan besar yang mengatur bumi dan langit, tentang batas yang tak bisa ditembus kecuali dengan daya dan otoritas.

Ayat itu berbunyi: “Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah; kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan (sulṭān).” (QS. Ar-Rahman: 33). Berabad-abad setelahnya, ketika manusia mulai membangun roket dan menembus orbit, ayat itu dibaca ulang dengan ketercengangan baru. Seolah kata-kata yang lahir di tengah masyarakat buta huruf itu sudah lebih dulu menyingkap batas langit yang hanya bisa dilewati dengan kekuatan.

W. Montgomery Watt menulis, “The Qur’an was not only a religious text, but also the charter of a new society.” Ia melihat bahwa dari mulut seorang buta huruf lahir sistem moral dan sosial yang melampaui zamannya. Kata-kata itu bukan hanya penghibur spiritual, melainkan peta jalan bagi sebuah peradaban.

Baca Juga

Ini Bedanya Deposito, Obligasi, Reksadana, dan Saham
Baru Mulai Investasi? Kenali Perbedaan Deposito, Obligasi, Reksadana, dan Saham
AI di Ujung Jari: Writing Help WhatsApp Bikin Chat Lebih Luwes & Aman
Jelang Peluncuran iPhone 17, iPhone 16 Diskon hingga Rp 4 Juta
9 Kebebasan Kecil yang Diam-diam Jadi Mewah saat Lega Finansial

Bagi mereka yang menuduh Muhammad membual, setiap ayat justru menjadi kebalikan dari tuduhan itu: terlalu indah untuk dibuat oleh penyair, terlalu runut untuk disusun oleh orang buta huruf, terlalu luas untuk lahir dari masyarakat kecil yang tidak mengenal literasi. Kata-kata itu bukan cermin dirinya, tapi cermin cahaya yang melintas melalui dirinya.

Dan sejak itu, Al-Qur’an tidak lagi sekadar didengar, tapi mulai dihafal, ditulis, dibawa dari satu hati ke hati lain, dari satu rumah ke rumah lain. Di tengah Makkah yang masih menuduhnya pendusta, lahirlah sebuah kitab yang kelak akan dibaca berulang-ulang di seluruh dunia, setiap hari, tanpa pernah kehilangan nadanya.

Previous Page12345Next Page
TAGGED:Fathul MakkahIsra MirajMaulid NabiMaulid Nabi MuhammadMuhammadRenunganRenungan MaulidRuang DalamSejarah Nabi Muhammad
Bagikan berita ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link
Previous Article Bagi perusahaan telekomunikasi sebesar Indosat, melayani ratusan juta pelanggan bukan perkara teknis semata. Harpelnas 2025: Indosat Hadirkan Promo & Ketulusan Tanpa Akhir
Next Article Memperingati Hari Pelanggan Nasional 2025, PLN UID Banten hadir langsung menyapa pelanggan strategis yaitu Sosoro Mall dan PT ASDP. Kunjungan ini menjadi wujud apresiasi PLN atas kepercayaan pelanggan sekaligus komitmen menghadirkan layanan kelistrikan yang andal. Apresiasi Hari Pelanggan Nasional, PLN Banten Dekatkan Diri ke Pelanggan Strategis
- Advertisement -
Ad imageAd image

Terkini

DPRD Banten

Pimpinan DPRD Banten Hadiri Pelantikan Pengurus Hipmi Banten Masa Bakti 2025-2028

30 September 2025
DPRD Banten

DPRD Banten Desak Polda Tindak Tegas Tambang Ilegal dan Pabrik Nakal

27 September 2025
DPRD Banten

Rapat Paripurna Penjelasan Komisi II dan IV Sebagai Pengusul 2 (Dua) Raperda Usul DPRD Provinsi Banten

25 September 2025
DPRD Banten

DPRD Banten Ingatkan Bulog: Stok Beras Surplus Harus Segera Didistribusikan

18 September 2025
DPRD Banten

Komisi V DPRD Banten Dorong Tambahan Anggaran untuk UPTD Latihan Kerja

18 September 2025
- Advertisement -
Ad imageAd image