Horizons MediaHorizons Media
Font ResizerAa
  • Culture
  • Life
  • Space
  • News
  • Civic
  • Move
  • Tech
  • DPRD Banten
Horizons MediaHorizons Media
Font ResizerAa
  • Culture
  • Life
  • Space
  • News
  • Civic
  • Move
  • Tech
  • DPRD Banten
Search
  • Rubrik
    • Culture
    • Life
    • Space
    • News
  • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Disclaimer
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Iklan & Partnership
    • Syarat dan Ketentuan
Punya akun? Sign In
Follow US
© 2026 Horizons Media | Designed with ❤️ by Setiawan Chogah
Life

Renungan Maulid Nabi Muhammad: Dari Sunyi Makkah ke Cahaya Abadi

Renungan Maulid Nabi Muhammad: dari sunyi Makkah, seorang yatim tumbuh dalam luka, hingga cahaya abadi yang mengalahkan dendam. Dari gua yang sepi hingga Fathul Makkah, kasih selalu lebih kuat daripada pedang.

Setiawan Chogah
Oleh
Setiawan Chogah
Jumat, 5 September 2025
4 Views
Share
durasi baca: 39 menit
Maulid Nabi Muhammad
Ilustrasi.

Al-Qur’an: Mustahil dari Manusia Biasa

Makkah terkejut. Seorang pemuda yang sejak kecil dikenal jujur kini berkata bahwa dirinya menerima wahyu. Bagi sebagian orang, itu terdengar seperti kebohongan. Mereka mencibir, menganggapnya membual, menuduhnya penyair yang sedang mencari perhatian. Padahal Muhammad tak pernah dikenal sebagai penyair, tak pernah menulis bait, tak pernah belajar rima seperti mereka yang biasa bersaing di pasar Ukaz.

Namun kata-kata yang ia sampaikan bukan sekadar syair. Ia membawa sesuatu yang jauh lebih teratur, lebih indah, dan lebih dalam. Ayat-ayat yang ia ulang dengan suara bergetar memiliki irama yang menundukkan kepala, sekaligus kekuatan yang menantang hati paling keras.

Masyarakat Makkah kala itu nyaris buta aksara. Tidak ada tradisi literasi yang mengikat mereka dengan kisah-kisah dunia. Mereka tidak mengenal Musa, tidak mengenal Isa, tidak tahu kisah Nuh atau Ibrahim. Namun dalam ayat-ayat yang Muhammad bacakan, nama-nama itu hadir dengan runut, detail, dan makna yang melintasi batas zaman. Dari mana seorang yatim piatu, yang tidak pernah belajar kitab sebelumnya, bisa mengisahkan sejarah para nabi terdahulu, kalau bukan karena wahyu?

Mereka yang menolak lalu mencari alasan. Ada yang berkata, mungkin Muhammad hanya mengutip cerita yang didengar dari para pedagang asing yang singgah di Makkah—cerita sisa yang dibawa dari Syam atau Yaman. Tuduhan itu cepat menyebar, karena terdengar masuk akal bagi telinga yang memang ingin menolak.

Namun tuduhan itu gugur di hadapan kenyataan. Makkah bukan pusat filsafat seperti Athena, bukan pusat hukum seperti Roma, bukan pula kota teologi seperti Antiokhia atau Yerusalem. Makkah adalah kota kecil yang hidup dari transaksi untung rugi, kota di mana orang datang untuk menjual kulit, rempah, kain, atau budak—bukan untuk mendebat makna wahyu. Kafilah yang singgah memang membawa cerita, tetapi cerita itu tak lebih dari potongan kabur yang diselipkan dalam obrolan singkat di pinggir pasar. Tidak ada ruang bagi diskusi panjang tentang teologi, tidak ada percakapan rumit tentang sejarah nabi-nabi terdahulu.

Baca Juga

Laporan Gangguan Listrik PLN Mobile
PLN Mobile Bikin Hidup Lebih Mudah: Dari Bayar Tagihan Sampai Foto Meter Sendiri
Tambah Daya Listrik Kini Lebih Ringan: Warga Banten Rasakan Manfaat KALCER PLN
Dari Lapas Nusakambangan, Limbah FABA Jadi Sumber Harapan Baru
Festival Musik & 5G Indosat IM3: Saat Hiburan Bertemu Proteksi Digital

Muhammad sendiri bukan pendengar yang akrab dengan kisah-kisah asing. Ia tidak duduk bersama para rahib, tidak mengikuti kajian para pendeta. Ia seorang pedagang, seorang penggembala. Waktu yang ia habiskan lebih banyak di pasar menimbang dagangan atau di padang pasir menuntun kambing, bukan di ruang diskusi agama.

Sedangkan Al-Qur’an hadir dengan kisah yang runut dan konsisten. Ia tidak seperti cerita kafilah yang berserak, melainkan terjalin sebagai satu rangkaian yang utuh. Bahkan orang Yahudi dan Nasrani kala itu pun tercengang, sebab detail yang ada di dalamnya tidak sama persis dengan kitab mereka, tetapi juga tidak mungkin diketahui oleh orang luar.

Apalagi, Al-Qur’an hadir dalam bahasa Arab yang menundukkan para penyair paling piawai. Bukan sekadar kata-kata, tapi susunan yang membuat mereka bungkam. Karen Armstrong menulis bahwa konsistensi Al-Qur’an terlalu menakjubkan untuk sebuah teks lisan yang lahir di tengah masyarakat buta huruf. Montgomery Watt pun mengakui, mustahil Muhammad menyusun kitab sebesar itu tanpa inspirasi ilahi.

Baca Juga

Rinara Batik Cilegon: Saat PLN Menyalakan Energi Inklusif dan Harapan
Cara Ikut Tren Brave Pink & Hero Green Tanpa Kehilangan Makna
Brave Pink, Hero Green: Ketika Warna Jadi Bahasa Perlawanan Digital
Diskon Listrik PLN 50% Lewat KALCER: Begini Cara Nikmatinya

Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga menyingkap kondisi masyarakat saat itu: kritik terhadap riba, larangan mengubur bayi perempuan, perintah menolong yatim dan miskin. Semua itu adalah jawaban bagi Makkah yang sedang retak oleh keserakahan. Dan lebih dari itu, Al-Qur’an bahkan memberi isyarat-isyarat tentang masa depan—tentang perjalanan manusia ke langit, tentang kekuatan besar yang mengatur bumi dan langit, tentang batas yang tak bisa ditembus kecuali dengan daya dan otoritas.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Ayat itu berbunyi: “Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah; kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan (sulṭān).” (QS. Ar-Rahman: 33). Berabad-abad setelahnya, ketika manusia mulai membangun roket dan menembus orbit, ayat itu dibaca ulang dengan ketercengangan baru. Seolah kata-kata yang lahir di tengah masyarakat buta huruf itu sudah lebih dulu menyingkap batas langit yang hanya bisa dilewati dengan kekuatan.

W. Montgomery Watt menulis, “The Qur’an was not only a religious text, but also the charter of a new society.” Ia melihat bahwa dari mulut seorang buta huruf lahir sistem moral dan sosial yang melampaui zamannya. Kata-kata itu bukan hanya penghibur spiritual, melainkan peta jalan bagi sebuah peradaban.

Bagi mereka yang menuduh Muhammad membual, setiap ayat justru menjadi kebalikan dari tuduhan itu: terlalu indah untuk dibuat oleh penyair, terlalu runut untuk disusun oleh orang buta huruf, terlalu luas untuk lahir dari masyarakat kecil yang tidak mengenal literasi. Kata-kata itu bukan cermin dirinya, tapi cermin cahaya yang melintas melalui dirinya.

Dan sejak itu, Al-Qur’an tidak lagi sekadar didengar, tapi mulai dihafal, ditulis, dibawa dari satu hati ke hati lain, dari satu rumah ke rumah lain. Di tengah Makkah yang masih menuduhnya pendusta, lahirlah sebuah kitab yang kelak akan dibaca berulang-ulang di seluruh dunia, setiap hari, tanpa pernah kehilangan nadanya.

Dikhianati, Tapi Tak Pernah Membalas

Sejak ayat-ayat itu ia bacakan, sebutan Al-Amin yang dulu melekat di bibir kaumnya pelan-pelan terkikis. Orang-orang Quraisy yang pernah menitipkan harta padanya kini menuduhnya pendusta, penyair, bahkan gila. Riuh pasar yang dulu menyambutnya kini menjadi panggung cemooh; di jalan-jalan ia diludahi, dilempari, tubuhnya disakiti dengan batu.

Baca Juga

Ini Bedanya Deposito, Obligasi, Reksadana, dan Saham
Baru Mulai Investasi? Kenali Perbedaan Deposito, Obligasi, Reksadana, dan Saham
AI di Ujung Jari: Writing Help WhatsApp Bikin Chat Lebih Luwes & Aman
Jelang Peluncuran iPhone 17, iPhone 16 Diskon hingga Rp 4 Juta
9 Kebebasan Kecil yang Diam-diam Jadi Mewah saat Lega Finansial

Pernah ia pulang dengan wajah berdarah, kakinya lemah, tubuhnya ringkih. Dan ketika para malaikat menawari balasan—bahwa gunung-gunung bisa dijatuhkan untuk menimpa mereka yang menghinanya—ia hanya menjawab lirih: “Jangan, mungkin kelak dari tulang sulbi mereka akan lahir generasi yang beriman.”

Kehidupan di Makkah semakin sempit. Kaumnya memboikot: makanan sulit didapat, hubungan terputus, anak-anak menangis kelaparan di lorong-lorong. Namun Muhammad tetap sabar, tetap tidak membalas. Yang ada hanya doa, agar pintu hati mereka dibukakan.

Namun kebencian Quraisy tidak berhenti di situ. Mereka bersekongkol, merancang malam pembunuhan. Pedang-pedang telah disiapkan, rumah Muhammad dikepung, niat mereka hanya satu: mengakhiri hidupnya. Pada malam genting itu, ia meminta Ali—sepupunya yang masih belia—untuk berbaring di tempat tidurnya, menyelimutinya dengan kain yang biasa ia pakai. Ali tidak ragu, meski tahu dirinya bisa menjadi korban, ia tetap rebah dengan tenang, tubuh mudanya menjadi tameng bagi sang sepupu.

Sementara itu, Muhammad melangkah keluar dalam senyap malam. Menurut riwayat, ia membaca ayat dari Surah Yasin: “Dan Kami jadikan di depan mereka dinding, dan di belakang mereka dinding, lalu Kami tutup mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” Langkahnya ringan, dan para algojo yang menanti tidak menyadari bahwa lelaki yang mereka incar telah pergi meninggalkan rumah itu.

Hijrah pun dimulai—perjalanan penuh bahaya menuju Yasrib, kota yang kelak bernama Madinah. Ia dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur, dikejar pasukan Quraisy yang menelusuri jejak hingga ke mulut gua. Hanya setipis benang jarak antara hidup dan mati. Tetapi di mulut gua itu, laba-laba telah menenun jaring, burung merpati telah bertelur, dan para pengejar pun berbalik dengan prasangka: “Tak mungkin ada manusia bersembunyi di sini.”

Di masa-masa itu juga, sahabat-sahabatnya menceritakan tentang getar dalam dada mereka ketika mendengar lantunan Qur’an. Suara Muhammad bukan sekadar suara manusia biasa—ada resonansi yang menembus telinga, merasuk ke hati yang paling beku. Umar bin Khattab, yang sebelumnya datang dengan pedang hendak membunuh Nabi, justru berbalik hanya karena mendengar ayat-ayat Qur’an; bacaan itu bukan frekuensi biasa, melainkan gelombang yang menyalakan jiwa.

Bertahun-tahun kemudian, ketika ia kembali ke Makkah dengan kekuatan—kota yang dulu mengusirnya kini berada di bawah genggamannya—ia tidak menumpahkan dendam. Tidak ada darah yang ia tuntut, tidak ada harta yang ia rampas. Ia hanya berkata, “Pergilah, kalian bebas.”

Kebencian yang dibiarkan tumbuh akan membakar, tapi kasih yang dipelihara akan menjelma pohon teduh. Muhammad memilih kasih.

Previous Page12345Next Page
TAGGED:Fathul MakkahIsra MirajMaulid NabiMaulid Nabi MuhammadMuhammadRenunganRenungan MaulidRuang DalamSejarah Nabi Muhammad
Bagikan berita ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link
Previous Article Bagi perusahaan telekomunikasi sebesar Indosat, melayani ratusan juta pelanggan bukan perkara teknis semata. Harpelnas 2025: Indosat Hadirkan Promo & Ketulusan Tanpa Akhir
Next Article Memperingati Hari Pelanggan Nasional 2025, PLN UID Banten hadir langsung menyapa pelanggan strategis yaitu Sosoro Mall dan PT ASDP. Kunjungan ini menjadi wujud apresiasi PLN atas kepercayaan pelanggan sekaligus komitmen menghadirkan layanan kelistrikan yang andal. Apresiasi Hari Pelanggan Nasional, PLN Banten Dekatkan Diri ke Pelanggan Strategis
- Advertisement -
Ad imageAd image

Terkini

DPRD Banten

Pimpinan DPRD Banten Hadiri Pelantikan Pengurus Hipmi Banten Masa Bakti 2025-2028

30 September 2025
DPRD Banten

DPRD Banten Desak Polda Tindak Tegas Tambang Ilegal dan Pabrik Nakal

27 September 2025
DPRD Banten

Rapat Paripurna Penjelasan Komisi II dan IV Sebagai Pengusul 2 (Dua) Raperda Usul DPRD Provinsi Banten

25 September 2025
DPRD Banten

DPRD Banten Ingatkan Bulog: Stok Beras Surplus Harus Segera Didistribusikan

18 September 2025
DPRD Banten

Komisi V DPRD Banten Dorong Tambahan Anggaran untuk UPTD Latihan Kerja

18 September 2025
- Advertisement -
Ad imageAd image