Al-Qur’an: Mustahil dari Manusia Biasa
Makkah terkejut. Seorang pemuda yang sejak kecil dikenal jujur kini berkata bahwa dirinya menerima wahyu. Bagi sebagian orang, itu terdengar seperti kebohongan. Mereka mencibir, menganggapnya membual, menuduhnya penyair yang sedang mencari perhatian. Padahal Muhammad tak pernah dikenal sebagai penyair, tak pernah menulis bait, tak pernah belajar rima seperti mereka yang biasa bersaing di pasar Ukaz.
Namun kata-kata yang ia sampaikan bukan sekadar syair. Ia membawa sesuatu yang jauh lebih teratur, lebih indah, dan lebih dalam. Ayat-ayat yang ia ulang dengan suara bergetar memiliki irama yang menundukkan kepala, sekaligus kekuatan yang menantang hati paling keras.
Masyarakat Makkah kala itu nyaris buta aksara. Tidak ada tradisi literasi yang mengikat mereka dengan kisah-kisah dunia. Mereka tidak mengenal Musa, tidak mengenal Isa, tidak tahu kisah Nuh atau Ibrahim. Namun dalam ayat-ayat yang Muhammad bacakan, nama-nama itu hadir dengan runut, detail, dan makna yang melintasi batas zaman. Dari mana seorang yatim piatu, yang tidak pernah belajar kitab sebelumnya, bisa mengisahkan sejarah para nabi terdahulu, kalau bukan karena wahyu?
Mereka yang menolak lalu mencari alasan. Ada yang berkata, mungkin Muhammad hanya mengutip cerita yang didengar dari para pedagang asing yang singgah di Makkah—cerita sisa yang dibawa dari Syam atau Yaman. Tuduhan itu cepat menyebar, karena terdengar masuk akal bagi telinga yang memang ingin menolak.
Namun tuduhan itu gugur di hadapan kenyataan. Makkah bukan pusat filsafat seperti Athena, bukan pusat hukum seperti Roma, bukan pula kota teologi seperti Antiokhia atau Yerusalem. Makkah adalah kota kecil yang hidup dari transaksi untung rugi, kota di mana orang datang untuk menjual kulit, rempah, kain, atau budak—bukan untuk mendebat makna wahyu. Kafilah yang singgah memang membawa cerita, tetapi cerita itu tak lebih dari potongan kabur yang diselipkan dalam obrolan singkat di pinggir pasar. Tidak ada ruang bagi diskusi panjang tentang teologi, tidak ada percakapan rumit tentang sejarah nabi-nabi terdahulu.
Muhammad sendiri bukan pendengar yang akrab dengan kisah-kisah asing. Ia tidak duduk bersama para rahib, tidak mengikuti kajian para pendeta. Ia seorang pedagang, seorang penggembala. Waktu yang ia habiskan lebih banyak di pasar menimbang dagangan atau di padang pasir menuntun kambing, bukan di ruang diskusi agama.
Sedangkan Al-Qur’an hadir dengan kisah yang runut dan konsisten. Ia tidak seperti cerita kafilah yang berserak, melainkan terjalin sebagai satu rangkaian yang utuh. Bahkan orang Yahudi dan Nasrani kala itu pun tercengang, sebab detail yang ada di dalamnya tidak sama persis dengan kitab mereka, tetapi juga tidak mungkin diketahui oleh orang luar.
Apalagi, Al-Qur’an hadir dalam bahasa Arab yang menundukkan para penyair paling piawai. Bukan sekadar kata-kata, tapi susunan yang membuat mereka bungkam. Karen Armstrong menulis bahwa konsistensi Al-Qur’an terlalu menakjubkan untuk sebuah teks lisan yang lahir di tengah masyarakat buta huruf. Montgomery Watt pun mengakui, mustahil Muhammad menyusun kitab sebesar itu tanpa inspirasi ilahi.
Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga menyingkap kondisi masyarakat saat itu: kritik terhadap riba, larangan mengubur bayi perempuan, perintah menolong yatim dan miskin. Semua itu adalah jawaban bagi Makkah yang sedang retak oleh keserakahan. Dan lebih dari itu, Al-Qur’an bahkan memberi isyarat-isyarat tentang masa depan—tentang perjalanan manusia ke langit, tentang kekuatan besar yang mengatur bumi dan langit, tentang batas yang tak bisa ditembus kecuali dengan daya dan otoritas.
Ayat itu berbunyi: “Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah; kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan (sulṭān).” (QS. Ar-Rahman: 33). Berabad-abad setelahnya, ketika manusia mulai membangun roket dan menembus orbit, ayat itu dibaca ulang dengan ketercengangan baru. Seolah kata-kata yang lahir di tengah masyarakat buta huruf itu sudah lebih dulu menyingkap batas langit yang hanya bisa dilewati dengan kekuatan.
W. Montgomery Watt menulis, “The Qur’an was not only a religious text, but also the charter of a new society.” Ia melihat bahwa dari mulut seorang buta huruf lahir sistem moral dan sosial yang melampaui zamannya. Kata-kata itu bukan hanya penghibur spiritual, melainkan peta jalan bagi sebuah peradaban.
Bagi mereka yang menuduh Muhammad membual, setiap ayat justru menjadi kebalikan dari tuduhan itu: terlalu indah untuk dibuat oleh penyair, terlalu runut untuk disusun oleh orang buta huruf, terlalu luas untuk lahir dari masyarakat kecil yang tidak mengenal literasi. Kata-kata itu bukan cermin dirinya, tapi cermin cahaya yang melintas melalui dirinya.
Dan sejak itu, Al-Qur’an tidak lagi sekadar didengar, tapi mulai dihafal, ditulis, dibawa dari satu hati ke hati lain, dari satu rumah ke rumah lain. Di tengah Makkah yang masih menuduhnya pendusta, lahirlah sebuah kitab yang kelak akan dibaca berulang-ulang di seluruh dunia, setiap hari, tanpa pernah kehilangan nadanya.
Dikhianati, Tapi Tak Pernah Membalas
Sejak ayat-ayat itu ia bacakan, sebutan Al-Amin yang dulu melekat di bibir kaumnya pelan-pelan terkikis. Orang-orang Quraisy yang pernah menitipkan harta padanya kini menuduhnya pendusta, penyair, bahkan gila. Riuh pasar yang dulu menyambutnya kini menjadi panggung cemooh; di jalan-jalan ia diludahi, dilempari, tubuhnya disakiti dengan batu.
Pernah ia pulang dengan wajah berdarah, kakinya lemah, tubuhnya ringkih. Dan ketika para malaikat menawari balasan—bahwa gunung-gunung bisa dijatuhkan untuk menimpa mereka yang menghinanya—ia hanya menjawab lirih: “Jangan, mungkin kelak dari tulang sulbi mereka akan lahir generasi yang beriman.”
Kehidupan di Makkah semakin sempit. Kaumnya memboikot: makanan sulit didapat, hubungan terputus, anak-anak menangis kelaparan di lorong-lorong. Namun Muhammad tetap sabar, tetap tidak membalas. Yang ada hanya doa, agar pintu hati mereka dibukakan.
Namun kebencian Quraisy tidak berhenti di situ. Mereka bersekongkol, merancang malam pembunuhan. Pedang-pedang telah disiapkan, rumah Muhammad dikepung, niat mereka hanya satu: mengakhiri hidupnya. Pada malam genting itu, ia meminta Ali—sepupunya yang masih belia—untuk berbaring di tempat tidurnya, menyelimutinya dengan kain yang biasa ia pakai. Ali tidak ragu, meski tahu dirinya bisa menjadi korban, ia tetap rebah dengan tenang, tubuh mudanya menjadi tameng bagi sang sepupu.
Sementara itu, Muhammad melangkah keluar dalam senyap malam. Menurut riwayat, ia membaca ayat dari Surah Yasin: “Dan Kami jadikan di depan mereka dinding, dan di belakang mereka dinding, lalu Kami tutup mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” Langkahnya ringan, dan para algojo yang menanti tidak menyadari bahwa lelaki yang mereka incar telah pergi meninggalkan rumah itu.
Hijrah pun dimulai—perjalanan penuh bahaya menuju Yasrib, kota yang kelak bernama Madinah. Ia dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur, dikejar pasukan Quraisy yang menelusuri jejak hingga ke mulut gua. Hanya setipis benang jarak antara hidup dan mati. Tetapi di mulut gua itu, laba-laba telah menenun jaring, burung merpati telah bertelur, dan para pengejar pun berbalik dengan prasangka: “Tak mungkin ada manusia bersembunyi di sini.”
Di masa-masa itu juga, sahabat-sahabatnya menceritakan tentang getar dalam dada mereka ketika mendengar lantunan Qur’an. Suara Muhammad bukan sekadar suara manusia biasa—ada resonansi yang menembus telinga, merasuk ke hati yang paling beku. Umar bin Khattab, yang sebelumnya datang dengan pedang hendak membunuh Nabi, justru berbalik hanya karena mendengar ayat-ayat Qur’an; bacaan itu bukan frekuensi biasa, melainkan gelombang yang menyalakan jiwa.
Bertahun-tahun kemudian, ketika ia kembali ke Makkah dengan kekuatan—kota yang dulu mengusirnya kini berada di bawah genggamannya—ia tidak menumpahkan dendam. Tidak ada darah yang ia tuntut, tidak ada harta yang ia rampas. Ia hanya berkata, “Pergilah, kalian bebas.”
Kebencian yang dibiarkan tumbuh akan membakar, tapi kasih yang dipelihara akan menjelma pohon teduh. Muhammad memilih kasih.



