Tahun Kesedihan dan Wafatnya Khadijah
Setelah segala cemooh dan pengkhianatan, ujian yang lebih berat menimpa: bukan lagi datang dari luar, melainkan dari kehilangan di dalam rumah. Pada tahun ke-10 kenabian, satu demi satu tiang yang selama ini menjadi penopang hidupnya runtuh. Abu Thalib, paman yang sejak kecil melindungi, wafat lebih dulu. Dan tidak lama setelah itu, Khadijah—perempuan yang menjadi cahaya rumah, pelipur duka, penopang batin—menutup mata pada usia 65 tahun.
Hari itu adalah 10 Ramadhan, tahun ke-10 kenabian. Di Makkah, matahari bersinar sama seperti hari-hari lain, pasar tetap riuh, orang-orang tetap menghitung untung rugi, tetapi bagi Muhammad, dunia seakan meredup. Peristiwa itu dikenang sebagai ‘Aam al-Huzn—Tahun Kesedihan.
Khadijah dimakamkan di al-Hajun, dataran tinggi Makkah. Tanah yang sederhana itu kini menyimpan perempuan yang pernah menjadi penopang risalah: perempuan yang percaya saat orang lain menolak, yang menenangkan saat Muhammad menggigil ketakutan sepulang dari Gua Hira, yang menyiapkan bekal ketika suaminya memilih menepi, yang membuka rumah bagi ayat pertama yang turun.
Sejak hari itu, rumah menjadi lebih sunyi. Muhammad tetap melanjutkan risalahnya, tetapi langkahnya kini tanpa sosok yang paling ia cintai di sisinya. Kehilangan itu adalah luka yang sunyi, luka yang tidak bisa dijahit dengan kata, hanya bisa ditanggung dengan sabar.
Isra Mikraj: Hadiah di Tengah Luka
Dalam duka itulah, Allah memberikan penghiburan. Pada suatu malam yang gelap, Muhammad diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu diangkat menembus langit. Peristiwa itu dikenal sebagai Isra Mikraj—perjalanan malam yang mustahil bagi logika, tetapi nyata bagi iman.
Ia menyaksikan pemandangan yang tidak pernah dilihat mata manusia: perjalanan ke lapisan-lapisan langit, bertemu para nabi terdahulu—Adam, Musa, Isa, Ibrahim—hingga akhirnya berdiri di hadapan hadirat Ilahi. Dari perjalanan itu, ia membawa hadiah yang abadi: salat lima waktu.
Perjalanan itu mungkin terdengar mustahil bagi telinga yang hanya percaya pada kaki dan langkah. Tetapi bagi mereka yang peka, kisah ini membuka pintu tafsir yang lebih luas. Albert Einstein, berabad-abad kemudian, menjelaskan bahwa semakin cepat sebuah benda bergerak mendekati kecepatan cahaya, waktu baginya akan melambat, bahkan bisa berhenti. Dan Buraq—kendaraan Nabi—berasal dari kata barq, yang artinya kilat, cahaya.
Maka, Nabi tidak sekadar bergerak mendekati cahaya. Ia bergerak bersama cahaya itu sendiri. Wajar bila waktu terlipat, ruang terbuka, dimensi lain menampakkan diri. Ia melihat surga yang masih di masa depan, ia menyaksikan neraka yang menjadi peringatan, seakan semua itu hadir di satu hamparan pandang.
Mukjizat Isra Mikraj tidak berhenti pada perjalanan spektakuler itu, tetapi pada makna yang ia bawa: bahwa manusia pun bisa menjalin perjumpaan dengan langit, bukan dengan menunggang cahaya, melainkan dengan salat. Sebuah ibadah yang menjadikan bumi dan langit tidak lagi terpisah, waktu dan ruang tidak lagi jauh, melainkan rapat dalam sujud.
Bagi mereka yang menolak, peristiwa ini dianggap lelucon. “Bagaimana mungkin seseorang bepergian begitu jauh hanya dalam satu malam?” Mereka menertawakan, mengejek, menuduh Muhammad kembali membual. Tetapi bagi hati yang terbuka, Isra Mikraj menjadi penghibur: bahwa di tengah luka kehilangan, Allah mengangkat kekasih-Nya untuk melihat langit yang terbuka, lalu memberinya jalan sederhana agar setiap manusia bisa berjumpa dengan-Nya—salat.
Hijrah ke Madinah
Setelah tahun-tahun penuh luka dan ejekan, tekanan di Makkah semakin tak tertahankan. Malam-malam sunyi Muhammad kian dipenuhi bisikan pembunuhan; Quraisy bersekongkol hendak menghabisinya. Pedang-pedang sudah disiapkan, rumahnya dikepung, orang-orang bersiap menuntaskan niat yang mereka simpan sejak lama.
Di dalam rumah itu, Muhammad meminta Ali—sepupunya yang sejak kecil dibesarkan di pangkuan Khadijah dan dirinya—untuk berbaring di tempat tidurnya. Selimut hijau ditarik hingga menutupi wajah Ali, sementara di luar, para algojo mengintai. Ali tidak gentar; tubuh mudanya rebah dengan tenang, seolah ia tahu bahwa malam itu keberanian bukanlah soal mengangkat pedang, melainkan soal berbaring di ranjang dengan dada terbuka.
Muhammad sendiri melangkah keluar dalam senyap malam. Menurut riwayat, ia membaca ayat dari Surah Yasin: “Dan Kami jadikan di depan mereka dinding, dan di belakang mereka dinding, lalu Kami tutup mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” Langkahnya pelan, tapi pasti. Para pengepung tidak melihatnya pergi; seolah bumi sendiri merentangkan jalan dan menutup pandangan mereka.
Bersama Abu Bakar, ia menempuh perjalanan menuju Yasrib. Dalam pelarian itu, mereka bersembunyi di Gua Tsur. Pasukan Quraisy hampir menemukannya, jejak kaki terhenti di depan gua. Abu Bakar berbisik cemas, “Seandainya mereka menunduk, mereka pasti melihat kita.” Tetapi Muhammad menenangkan, “Jangan bersedih, Allah bersama kita.” Dan memang, di mulut gua itu, laba-laba telah menenun jaring, merpati telah bertelur. Para pengejar berbalik, meyakini tidak mungkin ada manusia bersembunyi di sana.
Hari-hari perjalanan itu berat: terik padang pasir, langkah kaki yang ditingkahi rasa lapar dan haus. Namun setiap langkah adalah pembuka jalan sejarah. Yasrib akhirnya menyambut dengan pelukan. Orang-orang Anshar menggelar persaudaraan dengan Muhajirin, menghapus sekat suku dan harta. Kota itu pun berubah nama: Madinatun Nabi—kota Nabi, atau singkatnya, Madinah.
Dari kota itulah, sebuah peradaban baru mulai bertunas.
Kesederhanaan Hidup Nabi di Madinah
Hijrah membuka lembaran baru. Dari Madinah, risalah Islam mulai bertumbuh: ayat-ayat Qur’an turun menata masyarakat, masjid berdiri menjadi pusat ibadah sekaligus ruang musyawarah, persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar dipererat dengan sumpah untuk saling menopang. Kota itu menjadi rumah baru, tempat risalah menemukan tanah yang subur.
Namun di balik peran besar sebagai pemimpin, Muhammad tetap hidup sederhana. Rumahnya hanyalah bilik dari tanah liat, beratap pelepah kurma, pintunya rendah sehingga orang yang masuk harus menunduk. Alas tidurnya tikar kasar yang sering meninggalkan bekas di punggung. Pernah ia terbangun dengan garis-garis merah di tubuhnya, dan ketika sahabat mengusulkan dipan yang lebih empuk, ia menolak, “Apa urusanku dengan dunia ini? Aku hanyalah seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya.”
Makanannya pun sesederhana itu: kurma, air, susu. Hari-hari panjang dijalani dengan perut yang sering kosong. Pernah berhari-hari ia mengencangkan batu di perutnya agar rasa lapar tidak melemahkan. Ketika roti gandum terhidang, ia jarang menyantapnya; daging lebih jarang lagi. Bahkan di saat rampasan perang bisa menimbun harta, ia memilih membagikannya pada umat, membiarkan rumahnya tetap kosong.
Ia menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandal dengan tangannya, duduk di lantai bersama sahabat tanpa kursi kebesaran. Anak-anak bisa memegang tangannya, budak bisa makan bersamanya, sahabat bisa bercanda tanpa takut melanggar wibawa. Kesederhanaan itu bukan sekadar gaya hidup, melainkan cara untuk menegaskan bahwa pemimpin sejati bukanlah yang menjauh dari rakyatnya, tapi yang hidup bersama mereka.
John Esposito mencatat, Nabi menegakkan hukum ilahi yang membebaskan masyarakat dari riba, melarang pembunuhan bayi perempuan, menuntun umat pada keadilan sosial—namun ia sendiri tidak menuntut apa-apa untuk dirinya. Tidak ada istana, tidak ada singgasana. Hanya manusia sederhana yang hatinya luas, yang memilih tidur di tikar kasar daripada di dipan emas.
Kesederhanaan itu menjadi bukti lain: bahwa risalah ini tidak dibangun dari harta atau kekuasaan, melainkan dari cinta dan ketulusan. Dari kota Madinah yang sederhana, cahaya itu menjalar, menyeberang ke negeri-negeri, hingga akhirnya sampai ke telinga kita hari ini.
Fathul Makkah: Puncak Kasih, Bukan Dendam
Bertahun-tahun setelah hijrah, setelah luka Uhud dan kemenangan Badar, setelah kesabaran panjang menahan hinaan, tibalah hari itu: Muhammad kembali memasuki Makkah. Kota yang dulu mengusirnya, kota yang mencemoohnya sebagai pendusta, kini berada di bawah genggamannya.
Seharusnya itu menjadi hari balas dendam. Pedang bisa saja dihunus, darah bisa saja dituntut, harta bisa saja dirampas. Logika dunia akan menganggap itu wajar, bahkan pantas. Tetapi Muhammad tidak memilih jalan itu. Ia berdiri di hadapan kaumnya yang menunduk, wajah mereka pucat oleh takut, lalu ia berkata dengan suara yang tenang: “Pergilah, kalian bebas.”
Tidak ada darah yang ditumpahkan, tidak ada nyawa yang diambil, tidak ada harta yang dirampas. Hari yang seharusnya menjadi puncak pembalasan, justru menjadi puncak kasih.
Kebencian yang dibiarkan tumbuh akan membakar, tetapi kasih yang dipelihara akan menjelma pohon teduh. Muhammad memilih kasih.
Dan sejak hari itu, pintu Makkah kembali terbuka, bukan sebagai kota yang penuh ejekan, melainkan sebagai kota yang menyimpan risalah abadi.
Cahaya layar laptop masih menyala, kursi kerja tetap di tempatnya, dan di jendela, capung yang tadi sempat berputar-putar kini sudah diam di kaca. Dua ekor ikan di kolam sisi jendela berenang pelan, seakan ikut menjaga sunyi. Dari masjid ujung gang, salawat Nabi masih mengalun, nada yang sama, kidung yang sejak tadi menemani perjalanan ingatan saya menelusuri sejarah.
Renungan di Malam Maulid Nabi
Saya menatap layar: sebuah kanvas kosong menunggu, desain ucapan Maulid yang harus saya selesaikan untuk seorang klien di Hong Kong. Pekerjaan itu sederhana—sekadar menyusun huruf, memilih warna, menata gambar—tetapi hati saya belum siap bergerak. Karena barusan, dalam diam ini, saya merasa baru pulang dari perjalanan panjang: dari rumah sederhana di Makkah, dari padang pasir Badui, dari gua yang sunyi, dari jalan hijrah yang penuh bahaya, hingga ke hari besar ketika kasih mengalahkan dendam.
Dan kini, di ruang kerja yang sempit, saya menyadari sesuatu: Muhammad bukan hanya kisah lampau. Ia adalah cahaya yang terus berpendar, dari abad ke abad, dari hati ke hati. Saya hanya sedang mengetik, hanya sedang menata desain, tetapi sebenarnya saya sedang ikut merayakan kasih yang tidak pernah padam.
Maka saya biarkan jari-jari saya menekan papan ketik pelan-pelan, menuliskan kata ucapan yang sederhana: Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Ucapan itu singkat, tetapi di baliknya ada perjalanan panjang yang tadi saya renungi.
Dan saya tahu, di setiap huruf itu ada bisikan lirih: bahwa kasih lebih kuat dari dendam, bahwa kesederhanaan lebih indah dari kemewahan, bahwa cahaya bisa lahir dari manusia biasa—jika Allah memilihnya.



